Id-2 : Sepertinya ini baru awal
Saat itu aku berfikir apakah yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah ini semuany nyata, bukanlah mimpi?.. aku masih belum mempercayai kalau ini semua benar terjadi. Setelah terkaget-kaget melihat wujudku yang berubah total menjadi Surya., akupun keluar dari kamar mandi dan mengambil buku itu, lalu membukanya lagi.
“sebenarnya ada apa ini…”. Sambil kubaca identitas Surya. Diatas foto surya tertulis ‘XVI’ ini adalah angka romawi dari 16, dan 16 itu adalah umur surya. kutemukan keterangan yang bertuliskan ‘kunnátta’ dan dibawahnya dituliskan ‘τρέχει μαραθώνιο’.
“ aduuh apa sih ini..?”.
DUBRAK!! Ada yang mendobrak pintu dari luar! Aku kaget dan menutup buku itu, sekali lagi aku merasakan strum kecil dari buku ini. Lalu pandanganku terpaku pada Tentara yang mendobrak pintu. Dibelakangnya, ada seorang laki-laki yang memegang buku yang hampir sama dengan buku ini.
“Kenapa ini? Kenapa kalian mendobrak pintu kamar ini? Bukannya tinggal dibuka pelan-pelan saja?”.
Aku mencoba membuat keadaan ini menyejuk. Tapi pandangan laki – laki yang dibelakang itu , tiba-tiba berubah menjadi sangat menyeramkan. Mata itu, menunjukkan sepertinya dia punya dendam padaku.
“Heh.. sebaiknya cepat serahkan buku itu.. dan kalung yang kau pakai itu..”
“Apa? Jelaskan dulu apa perlu lo berdua kesini..”
“Baiklah, aku tau kau belum menyadari betapa berbahayanya buku itu”.
“Apa? Buku ini? gue nggak bakal berfikir begitu sebelum lo menjelaskannya!”
“Akan kujelaskan, tapi kau harus menyerahkan buku itu, beserta kalungnya”
“Kalung? udahlah! Jelaskan saja dulu , yang berbahaya itu!”
Dia lalu mengangkat buku miliknya dan menunjukkan isinya kepadaku. Dan aku melihat foto-foto orang, dengan keterangan tidak jelas. Percis seperti apa yang berada di dalam buku ini. Namun di lembaran yang ditunjukannya ada 5 foto orang, dan kelihatannya buku yang dipegangnya itu jauh lebih tebal. Dibanding dengan buku yang kupegang ini.
“Lihat? Ini adalah daftar orang-orang mati, dan aku bisa membangkitkan mereka kapan saja sesuai keiginanku. Seperti tentara yang ada dihadapanmu ini.”
“Apa?! Jadi, tadi itu penyebab buku ini.”
“Kelihatannya kau sudah mencoba buku itu ya? Nah sekarang serahkan buku dan kalungnya itu, atau kau mati dan menjadi budakku seperti tentara ini.”
Aku membuka buku itu dan melihat lagi foto Surya, setelah menyadari kalau kehilangan surya ternyata gara-gara aku.
“Surya…TIDAK! Gue nggak akan menyerahkan kalungnya”
“Begitu ya… kalu begitu tunggu apa lagi tentaraku.”
Tentara itu menjentikan jarinya sambil berjalan kearahku, aku baru menyadari kalau aku sudah kembali ke bentuk semula, setelah menyadari kalau aku sudah tidak memakai jaket Surya. Aku menutup buku itu dan sekali lagi aku merasa setrum kecil dari buku itu.
“Oh, jadi kau sudah tau cara menggunakanya ya?.”
“Cara menggunakan apa?!”
“Buku itu”
“APA?!”
Tetara itu meninju kearahku, tetapi dengan refleks, aku menghindarinya. Aku baru sadar kalau aku berubah lagi jadi Surya , setelah mendapati kalau aku memakai jaket milik Surya.
“Hey tunggu dulu, gue gak ngerti apa apa!”
Aku langsung berlari sambil membawa bukuini kearah luar ,setelah menyenggol mereka berdua sampai jatuh.
“TENTARA TUNGGU APA LAGI!”
Suara teriakan laki-laki itu terdengar sampai luar. Ketika aku menoleh kebelakang , aku melihat tentara dan laki-laki tadi sedang berlari mengejarku. Akupun terus berlari hingga keluar dari rumah sakit sambil membawa buku itu. Aku berhenti sejenak di kerumunan orang , dan aku menyadari kalau aku belum merasa lelah. Padahal biasanya kalau lari sejauh ini, aku pasti tidak kuat. Lari dari lantai 4 , ke lantai dasar melalui tangga darurat, wah itu seharus nya bisa bikin aku pingsan. Jangan-jangan selain berubah jadi Surya, aku juga dapat kemampuan dia., yaitu lari marathon.
Aku melanjutkan dengan jalan kaki kearah rumah, berhubung jarak rumah sakitnya gak terlalu jauh dari rumahku. Sambil berjalan, aku melihat ke buku mistis ini. Dan berfikir ‘setiap kali aku tutup buku ini ,pasti aku kesetrum kecil, terus berubah jadi si Surya. atau nggak ,jadi balik ke bentuk semula.. nahh itupun setelah aku menyebut nama surya , lalu menutup bukunya. atau diam aja seperti ketika waktu tentara itu mendobrak pintu kamarku, lalu aku berubah jadi bentuk semula’.
Sekarang aku pergi ke tempat sepi di komplek di dekat rumah , sebelum pulang. Aku membuka bukunya dan menutupnya lagi, setrum kecil itu terasa lagi. Aku lihat wajahku di genangan yang ku injak. Ternyata benar aku kembali ke bentuk semula. Sekarang aku tau cara menggunakan buku ini.
Akupun berbalik untuk melanjutkan jalan pulang .Tapi laki-laki tadi ternyata telah menunggu dibelakangku.
“MAU APA AGI LO!”
“sekarang serahkan buku itu”
Tentara yang tadi tidak ada . akupun memanfaatkan kemampuan buku ini, untuk berlari secepat Surya.kubuka buku itu lagi.
“SURYA!”. Kuteriakkan namanya. Lalu kututup bukunya. Seperti yang sudah kuduga tadi, ternyata benar aku berubah menjadi Surya.
“Kamu sudah mahir ya”
Laki-laki itu membuka bukunya, lalu membaca sesuatu dengan berbisik. Debu debu di jalanan tertiup angin dan membentuk seorang Pria besar. Rambutnya gondrong dan ikal. Dari pundaknya hingga pergelangan ada tattoo bercorak tengkorak.Memakai kalung dengan hiasan telinga manusia. Dan memakai celana compang-camping, sepertinya yang satu ini adalah preman.
“Maju Borai, Habisin tuh anak”.
“Oke boss.” Preman itu membalas perintah laki-laki tadi.
Aku berlari melawan arah dari arah ke rumahku. Preman itu pun mengejarku. Aku lari terus melewati anak-anak yang habis latihan silat. Aku sampai ke lapangan bola tempat orang-orang berlatih silat. Disana ada seorang bapak-bapak menghampiriku.
“Surya?,syukurlah kamu masih hidup nak.”
Apa? Jangan jangan ini bapaknya si Surya. Kudengar dari Surya, ayahnya itu adalah pelatih silat, dan namanya adalah Sutoyo.Aku lihat ke belakan preman itu lari semakin mendekat.
“HWAA! PREMAN ITU!”
“apa? Kamu dikejar preman.. tenang nak, udah kamu ngumpet aja di dalem pos”
Disana ada pos ronda, aku masuk kesana untuk sembunyi.
DORRR…. Ada suara tembakan dari luar! Gawat! Pasti laki laki itu.
Aku langsung keluar. Ternyara bahu ayahnya Surya tertembak , tapi dia masih berdiri. Ternyata preman itu berdiri di depan ayahnya Surya dan membawa Handgun. Aku memegang buku itu di depan dadaku disaat aku berdiri di belakang ayahnya surya. Ayahnya Surya menengok ke arahku.
“Lari nak! LARI!”
“APA?!”
DOOOR!! Di depan mataku kepala ayah Surya tertembak dan darahnya membasahiku. Jasadnya jatuh kearahku , dan menyentuh buku itu.
“AAAAAARGH!!” Lagi-lagi kurasakan setrum yang sangat menyakitkan tapi itu tidak membuatku pingsan.
Setelah membuka mata, aku sadar kalau aku kembali ke bentuk semula , dan jasad ayah Surya juga menghilang.
Preman itu menodongku sekarang. pistonya menempel tepat di dahiku. aku merasa sangat tegang dan bingung harus lakukan apa


No comments:
Post a Comment