Id-3:Langkah Pertamaku
Saat itu aku sudah tidak berkutik, dan memejamkan mata dengan pasrah.
“CIAAAAT!!”. Lho , itu kan’ suara Yoza.
Doorr!! Suara pistol itu di tembakkan.. namun aku tidak merasakan kesakitan sama sekali. Maka kubuka mataku , ternyata benar!! Yoza datang. Dia mengenakan tas dan membawa toya.Kulihat pistol itu tergeletak ditanah, sepertinya Yoza memukul tangan preman itu.
“Ambil Nih!!”.Duag!! Yoza memukul kepala preman itu hingga preman itu terjatuh dan terlihat sangat kesakitan.
Aku melihat kearah laki-laki pengguna buku itu. Aku sedikit terkejut saat menyadar,i kalau dia mengenakan kalung yang mirip dengan kalungku.
“Ayo lari!”. Yoza menarik tanganku dan kami berlari sejauh mungkin.
Disaat Yoza menarik tanganku, aku melihat laki laki itu, dan dia juga melihat kearahku. Namun kali ini pandangannya berbeda, sepertinya dia memandangku dengan pandangan biasa saja.
Kami berlari sejauh mungkin, sampai kami berhenti di sebuah pertigaan. Kebetulan pertigaan ini adalah perpisahan jalan menuju rumahku dan rumah Yoza.
“hosh.. hosh… ehhh.. Toma.. hosh”. Kami masih sangat lelah ,dan terengah-engah.
“hosh… udah ntar dulu..hhosh”.karena sangat terengah-engah, Kami istirahat sejenak
…
“humph.. lo ngapain sama tukang cukur itu tadi?”. Lho, tukang cukur? Padahal tampangnya mirip preman.
“Eh? Tukang cukur? Bukannya itu tadi preman?”.
“itu tukang cukur tau, yang waktu itu di penjara!”.
“Set! Tukang cukur dipenjara kenapa? Lagian mana ada sih tukang cukur yan tampangnya sebringas itu”.
“itu tukang cukur gila…abis bebas karena kasus pengeroyokan. dia menggal kepala seseorang, gak tanggung tanggung ! kupingnya juga dipotong!”. Aku ingat, saat itu ,si Preman mengenakan kalung berhiaskan telinga manusia… Yuks!
“Oooh , gitu ya.. gue juga baru tau”.
“emang lo ngapain tadi sama dia”.
“tau-tau tuh orang ngejar gue.. ya terus begitu lah..”
“sekarang kayaknya, dia gak ngejar kita lagi”.
“iya , syukur deh..”
“udah ya, gue balik dulu”.
“iya, gue juga.. “
“EH! Hai hati lo..”
“oke, lo juga hati-hati”.
Kami berpisah menuju rumah masing-masing. Sekarang sudah dekat sekali dari rumah. Jadi aku berjalan agak santai. Aku memikirkan soal laki-laki itu. Dia selalu saja meminta buku ini dan kalung itu.
‘ahh palng-paling, dia Cuma pengen punya kemampuan buku ini.. makanya dia ngejar-ngejar gue terus… tapi kan’ kalung ini gak ada hubungannya.. hmmm, ngomong-ngomong soal kalung, laki-laki itu juga mengenakan kalung yang mirip. Dan yang bisa liat buku ini Cuma gue dan laki-laki itu.Jangan jangan , yang bisa liat buku ini Cuma yang pake kalungnya doang.’
Tak terasa aku sudah sampai deadpan pagar rumahku, pintu pagarnya terbuka . sepertinya ada orang di dalam. Mungkin nenek sedang tidak ada jadwal ngaji.
Aku mendorong pintu dengan cepat, tapi bersamaan dengan itu, terasa ada tarikan yang sama cepatnya juga dari dalam.
“ EHHH!!!”… “EHHHH!” bersamaan aku dan Kina terkejut saat pintu itu terbuka.
Ternyata yang sedang didalam kina!
“EH TOMA!”
“KINA!”
“kamu kemana aja siih”. Ia mengatakanya sambil menunjukkan wajah memanja, tidak seperti biasa.
“EH! GILA LO CANTIK BANGET!”. Eitts! …Aduh gawat! Keceplosan.
Saat itu wajah kina memerah , sepertinya itu juga terjadi pada wajahku. Aduh kenapa aku jadi deg-degan begini? Biasanya kalau tatap-tatapan sama Kina, nggak seperti ini. Kami saling tatap-menatap selama beberapa detik.
“Iiiiih kamu ngomong apa sih, kamu ini bener bener lagi sakit yah.. heuu”. Lagi-lagi wajah itu.
“EH!” Hup… langsung kututup mulutku.. ‘hampir aja keceplosan lagi’
“Aku udah nyusulin kamu lagi ke rumah sakiit, tapi kamunya udah nggak ada.. aku khawatir tau”. Kenapa aku jadi terpaku begini sih? .au terpaku menatap wajahnya Kina.
“Eh!”.. Eitss!!, hampir lagi!! Detak jantungku semakin keras saja.. sampai sampai rasanya… gempa sedang terjadi didalam dadaku ini.
“Eh , apa? Jangan ngomong macem macem lagi kamuu”. Semakin aku melihatnya, semakin bertambah kuat detak jantungku..
Aku menutup mata sejenak.. lalu kubuka lagi mataku… detak jantungku menormal, lalu kucoba mengatakan sesuatu..
“eh.. ini… anu.. “.
“kamu kok gagap begituu” sekarang bilang kamu habis dari mana?!”
“aku.. tadi.. tadi..tadi itu..”
“Iiiih cepetan bilaang!”
“tadi ada kejadian.. kejadian aneh!”
“hah? Kejadian apa?”
“ayo masuk biar aku jelasin”.
Kami masuk kedalam, dan duduk di kursi tamu saling berhadapan. Dan aku memulai perbincangan
“gini , gue sebenernya belum bener-bener ngerti”.
“Apanya? Ayo certain yang lengkap dong..”
Aku menceritakan semua yang terjadi sejak malam itu, malam ketika aku dan Surya mengalami kecelakaan. Kina terlihat sangat terkejut namun kali ini di mempercayai semua kata-kataku , jauh berbeda dari yang waktu dirumah sakit itu.
“Gimana lo percaya kan”. Aku berusaha meyakinkannya.
“Apa buktinya?Buku yang kamu bilang gak bisa diliat orang lain seain kamu itu… mungkin aja kalo disentuh terasa”.
“Oh , iya boleh dicoba”.
Aku mengangkat buku itu di antara kami. Lalu Kina menjulurkan tangannya. Ternyata tangannya menembus buku itu! Ini benar benar aneh.
“Oh ternyata gak bisa ya..”
“iya aku nggak ngerasa nyentuh apa apa”.
Kalau begitu sekarang , kuletakkan bukunya di meja, dan kulepas kalungku. Ternyata aku tidak melihat buku itu lagi!. Lalu kupakai lagi kalung itu. Aku melihat buku itu lagi diatas meja.
“Kamu ngapain sih Toma?”
“ngetes, nah sekarang coba lo yang pake”.
Aku melepas kalungku dan menyerahkannya pada Kina. Dia menerimanya tetapi diam sejenak.
“aku takut Toma..”
“Eh!, yaudah, kalo takut gak usah..”
“Toma coba sini dehh..”
Aku berdiri dan berjalan kesamping Kina. Diapun berdiri dan mendekatkan diri kepadaku. Aduh.. aku ngerasa deg degan lagi… apalagi Kina mengangkat tangannya seolah akan memelukku. Eh.. tapi ternyata dia menyulutkan kalungku di leherku, dan menyulutkannya juga dilihernya. Jadi mau tidak mau, pipi kami bersentuhan. Dan rasa deg deganku semakin dahsyat.
kejadian yang berdua sama Kina itu.. sebenernya penulis sendiri belum ngalamin. nah, buat yang di wawancarain sama gue kemarin.. cuma buat chapter ini doang kok .





